Sabtu, April 26, 2008

MONIKA.....
Yg ada di bayangan pasti:
Gender : female, cantik imut lucu
Hobby : chating, shopping, sight seeing, clubbing, teleponing eh...telp2an
Ciri2 : rambut hitam lurus wangi, kulit putih bersih, pipi kemerah2an
dan seterusssssnyaaaaa
Monika yang satu ini biar kecil tapi manfaatnya luar biasa lho
Bisa menyelamatkan ratusan bahkan ribuan kepala rumah tangga (terutama tiap 5 thn sekali)
Sejenis Wonder Woman atau Cat Woman?
Hi hi,Monika ini kependekan dari MONitor Informasi Ketinggian Air!
Alias alat pendeteksi ketinggian air di Katulampa, Bogor
Jadi kalau ketinggiannya udah diatas normal, si Monika ini kasih signal
Trus bisa diakses via SMS juga
Jadi warga jakarta yg biasanya ketar ketir nunggu kiriman air dari Bogor, bisa siap2 ngemasin barang2 u/ diselamatkan sebelum si Banjir sampai ke rumah mereka
Ini beritanya:

Jumat, 25 April 2008 18:50:00 (dari: http://www.antarafoto.com/dom/prevw/?id=1209105465)

---Alat Deteksi Permukaan Air Otomatis Dipasang di Katulampa---

Bogor-RoL -- Sinar matahari dan arus air saat ini sulit dikendalikan karena ulah manusia, akibat keseimbangan lingkungan hidup telah berubah.

"Untuk mengendalikan arus air, Wantimpres memasang alat pendeteksi ketinggian permukaan air yang dilengkapi fasilitas mesin penjawab SMS otomatis di Bendung Katulampa," kata anggota Wantimpres Bidang Sosial, Subur Budisantoso, ketika meresmikan pemasangan alat Monika (Monitor Informasi Ketinggian Air) di Bendung Katulampa, Bogor, Jumat (25/4).

Budisantoso mengatakan, sebenarnya tugas Wantimpres adalah memberikan saran-saran dan pertimbangan kepada Presiden, bukan mengurusi arus air.

Namun, Wantimpres memasang alat pendeteksi ketinggian permukaan air atau Monika sebagai sumbangan yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

Pemasangan alat Monika ini, kata dia, atas kerja sama Wantimpres dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) asal Prancis, Action Contre la Faim (ACF), yang membantu korban bencana banjir di Jakarta.

Dengan dipasangnya alat Monika di bendung Katulampa Bogor, kata dia, diharapkan bisa menjadi pendeteksi awal kemungkinan bencara banjir di Jakarta.

"Apalagi, alat Monika ini dilengkapi sistem penjawab SMS yang akan dikirimkan ke kantor kelurahan yang merupakan wilayah kerja ACF di Jakarta," katanya.

DRR Advisor ACF Rabinarayan mengatakan, lembaganya membantu korban bencana banjir di Jakarta, terutama daerah aliran sungai (DAS) di Kampung Melayu dan Cipinang Muara Jakarta Timur serta di Penjaringan Jakarta Utara.

ACF juga peduli terhadap pemasangan alat Monika yang bisa memberikan informasi ketinggian permukaan air secepatnya, pada saat arus air masih berada di Katulampa Bogor.

Sementara itu, Titie Mutia perwakilan dari Lembaga Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang mengurusi bencana mengatakan, pemasangan alat Monika oleh Wantimpres di bendung Katulampa Bogor adalah bentuk kongkrit penyebaran informasi dini terhadap kemungkinan bencana banjir di Jakarta.

"Masyarakat internasional di Jakarta selama ini mencari informasi dini bencana melalui media, terutama televisi dan radio, yang menginformasikannya cukup cepat," katanya.

Dengan terpasangnya alat Monika yang bisa memberikan jawaban SMS secara otomatis, kata dia, akan sangat membantu memberikan informasi, terutama pada malam hari.

Koordinator tim perakit alat Monika, Witjaksono dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Bayu Himawan dari Wantimpres menjelaskan, alat Monika yang dipasang Wantimpres di bendung Katulampa adalah alat pendeteksi ketinggian permukaan air secara otomatis. Pada saat permukaan air mencapai 100 cm (memasuki keadaan siaga) maka alat akan berbunyi secara otomatis dan menjawab SMS secara otomatis ke nomor-nomor telepon seluler yang disimpan di database mesin penjawab.

"Nomor-nomor telepon seluler yang disimpan, adalah nomor petugas kelurahan di Jakarta, sehingga informasi dini melalui SMS tersebut bisa segera ditindaklanjuti," katanya.

Diakuinya, meskipun telah diresmikan pemakaiannya, tapi alat Monika ini masih akan terus diuji coba dan perbaikan selama tiga bulan ke depan.

Sementara itu, penjaga pintu air bendung Katulampa Bogor, Andi Sudirman mengatakan, pada musim hujan permukaan air di bendung Katumpa bisa naik sampai lebih dari 100 cm.

Pada saat permukaan air mencapai 100 cm, sudah mulai tahapan siaga IV. Permukaan air bisa meningkat lebih tinggi.
"Dengan adanya alat Monika yang mendeteksi permukaan air secara otomatis, maka akan sangat membantu tugasnya membaca ketinggian permukaan air, terutama pada malam hari," katanya.

Selama ini, ia membaca ketinggian permukaan air dengan cara mengontrolnya langsung ke papan mercu bendung, setiap jam.

"Pada musim hujan, arus air bergerak dari bendung Katulampa ke Jakarta sekitar 10 hingga 12 jam," katanya. antara/is



Nah, jadi punya cukup waktu kan buat siap2 ngungsi?
Jadi inget musibah banjir 2007
Malam sebelum esok sore mulai banjir, hujan mulai turun
Seperti biasa, Six Sense kasih signal
Tanpa pikir 2x langsung ngemas2i barang2 (selain meja kursi, lemari tentunya),semua, ke lantai 2
Jadi bener2 kaya 'kapal pecah' suasana kamar dan ruang tv di lt.2
Sementara si Bos bukannya ngebantu malah2 ngeledek + setengah marah
"Ngapain sih pindah2. Kaya mau banjir gede aja. Kaya orang stres tau..."
Untung saat itu tenaga udah nyaris habis buat angkat2 barang, jadi omongan si Bos langsung keluarin dari telinga satunya,jangan sampai ketelan, bisa bahaya!
Tapi lucunya, malam itu bisa tidur dgn nyenyak bgt #iyalah! cuapekkk...pindahin barang2#
Paginya, pas mau berangkat kerja, jalan keluar komplek udah di blokir alias gak bisa keluar komplek lagi
O la la, ternyata jalan raya dpn komplek udah banjir sedengkul!
Terpaksa niat bolos kerja hari itu
Pas sore harinya, Six Sense kasih signal lagi : Keluar dari komplek sekarang juga atau terjebak banjir berhari2 gak bisa keluar rumah!
Akhirnya kami ber2 sepakat untuk segera mengungsi ke rumah orang tua dengan bekal 2 tas ransel isi pakaian
Pas kita keluar rumah, tetangga lagi pada kongkow2 (kebiasaan ibu2 di sore hari sambil nyuapin anak)
Sumpah kami diketawain sama mereka!
"Mau keman,Bu?" dan
"Ngungsi?" dan
"Takut banjir ya?" dan
"Gak bakal banjir kok"
:( *:( $$$????!!!!!! Aghrrrrrr ......
Cukup jawab saja dengan...smileeeeee dan ngengggggg meluncurlah kita menerjang banjir di depan pintu gerbang komplek setinggi lutut
Alhamdulillah, gak bikin macet mesin
Sepanjang perjalanan ke rumah ortu sempat jadi pemandangan yang membingungkan buat orang2 di jalan
Banjir nggak, tapi udah kaya orang kecemplung got + tas ransel yang gede2
Sampai rumah ortu, juga menerima pandangan aneh
#'Anak2ku kenapa nih, jangan2 stres ya? Banjir nggak tapi penampakan kaya pengungsi begini?'. Mungkin begitu dalam pikiran mereka#
Beberapa jam kemudian ,sekitar jam 9 malam, iseng2 si Bos telpon tetangga depan rumah
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Mas, kondisi komplek gimana? Aman nggak (dari banjir maksudnya)?"
"Wah, pagar rumah Mas udah gak keliatan! Jalan dpn rumah kita udah hampir sedada!"
"...........???????............"
Si Bos gak pingsan dengernya, tapi kelihatan bgt shock-nya
Kalau di jalan sedada, berarti di rumah nyaris sepinggang dong!
Untunggggg, udah diangkatin semua ke atas
Padahal menurut cerita sesepuh2 di komplek, puluhan tahun mereka tinggal di sini, baru 1 kali ngerasain jadi korban banjir waktu tahun 2002
Tuh kan, coba kalau gak percaya sign dariNya
Bisa2 malah kejebak berhari2 di lt.2, gak bisa kemana2
Banjir itu berlangsung nyaris 1 minggu baru surut dengan ninggalin pekerjaan2 yang bejibun
Masih lumayan gak ada lumpurnya, cuma endapan tanah / pasir yg gampang di semprot pakai air
Tapi capeknya berminggu-minggu buat mengembalikan rumah jadi kaya dulu lagi
Jadi, waktu denger udah ada neng MonIKA ini, lumayan ngebantu kasih informasi akurat

Tidak ada komentar: