Dapat dari milis anadia, kiriman puisi seperti ini:
When I born, I black
When I grow up, I black
When I go in Sun, I black
When I scared, I black
When I sick, I black
And when I die, I still black
And you white fellow
When you born, you pink
When you grow up, you white
When you go in sun, you red
When you cold, you blue
When you scared, you yellow
When you sick, you green
And when! You die , you gray
And you calling me colored?
# The best poem of 2006
This poem was nominated by UN as the best poem of 2006, Written by an
African Kid #
Gak tau kenapa, waktu baca puisi ini langsung ngebayangin adegan saat pembuatannya. Didalam pikiran anak africa itu pasti berkecamuk berbagai hal tentang diskriminasi, terutama dari warna kulit.
Anak Africa itu mencoba menuangkan 'kebingungannya' melalui puisi, karena dia yakin dengan bersuara secara verbal adalah sama dengan membuang energi dan waktu dengan hasil yang pasti O besar. Tapi dengan menulis puisi, paling tidak dia berharap tulisan uneg2nya bisa tersebar ke seluruh negeri bahkan dunia.
Keinginannya terkabul. Bahkan puisinya menjadi puisi terbaik oleh PBB ditahun 2006.
Pesannya tersampaikan keseluruh negeri tanpa harus membuang banyak energi dan waktu, juga biaya #Good job, Boy!#
Ada satu persamaan pemikiran #mungkin....# dengan Anak Africa itu dengan apa yang tersimpan di benak selama bertahun-tahun.
"Kenapa warna kulit menjadi alasan untuk mengkotak-kotakkan manusia?"
Setiap bayi yang terlahir TIDAK PERNAH DAN TIDAK BISA memesan untuk terlahir dengan warna kulit tertentu seperti keinginan bayi!
Jadi kenapa ketika mereka tumbuh besar, langsung 'ditanamkan' pengkotakkan warna kulit. Sangat tidak adil!!!
Apakah saat Alloh akan memutuskan manusia untuk dimasukkan ke neraka atau Surga, hanya akan melihat warna kulit?
"Oh...kamu hitam, masuk surga aja biar putih. Kamu putih, masuk neraka aja biar hitam"
Astaghfirullah! Sangat tidak mungkin Alloh menghilangkan hitungan amal kita.
Jadi kenapa makhluk-Nya dengan sombongnya mencoba mengkotak-kotakkan sesuai warna kulit?
Jumat, Oktober 31, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar