Waktu lagi browsing, jemariku dituntun-Nya membuka website ttg komunitas Muslim Tionghoa
Dan ada salah satu artikel yang menjadi jawaban atas pertanyaan yang sekian lama cuma bisa tersimpan di kepala tanpa tahu tempat yang pas untuk menuangkan pertanyaan itu
Semenjak pertama kali berniat merubah nasib dgn menjemput rezeki di Jakarta, tempat untuk menjemput rezeki itu menempatkan aku di posisi minoritas (prosentase jumlah secara Ras)
Awalnya sempat kagok, gak biasa, aneh, mesti bersikap bagaimana, karena aku yakin 'mereka' pun berpikiran sama ketika ada seseorang yg bukan kelompoknya tiba2 harus mereka terima sebagai salah satu anggota
Tapi kecanggungan itu cuma bertahan beberapa hari, karena sifat dasar alias dari sononya alias bawaan orok yang bisa cepet beradaptasi dengan tempat apapun yang baru, Alhamdulillah dengan pendekatan dan pengenalan diri bahwa aku (dan 'aku-aku' lainnya) tidak se'aneh' yg mereka bayangkan dan pikirkan
Suasana jadi enak dan nyaman buat bekerja
Dan begitupun dengan tempat menjemput rezeki berikut2nya (sampai sekarang sudah 3x pindah untuk menjemput rezeki yang lebih baik) yang entah kenapa aku selalu pada posisi 'minoritas'
Dengan pendekatan dan pengenalan diri yang (Insya Allah) baik, semuanya berjalan dengan baik
Dari ke-3 tempat menjemput rezeki itu akhirnya lahir 1 pertanyaan yg masih mengganjal: 'kenapa selalu ada jarak (yang sebenarnya sempit tapi mungkin dalam dan berbahaya) saat 'kulit coklat' bertemu 'kulit kuning'? Dan kadang2 (untuk orang2 tertentu yg mungkin belum moderat) jarak itu begitu sulit untuk di loncati, mesti perlu beberapa waktu untuk pendekatan yang lebih dalam lagi
Dan pertanyaan itu terjawab sudah dengan membaca ini:
***Warisan kolonial Belanda selama 3 ½ abad lah yang telah membuat orang-orang Tionghoa terpisah dengan umat Islam, padahal agama Islam masuk ke Tiongkok sebelum agama Islam masuk ke Nusantara (Indonesia), sehingga Etnis Tionghoa mempunyai pandangan yang tidak proporsional terhadap agama Islam. Mereka mengidentikkan agama Islam dengan orang Islam sama dengan orang Indonesia. Itupun dengan orang Islam, orang Indonesia masa lalu ketika masih dijajah oleh Belanda bukan orang Indonesia , umat Islam yang sekarang. Dahulu jika bicara tentang orang Islam maka identik dengan kemiskinan dan kebodohan karena mayoritas umat Islam, status sosialnya di bawah atau menengah ke bawah serta berpendidikan rendah. Padahal sekarang ini status social umat Islam, tidak lagi seperti itu, sudah banyak yang kaya atau ekonominya menengah ke atas bahkan ada bebeapa yang konglomerat. Pendidikan umat Islampun sudah banyak kemajuan, sarjana, doctoral bahkan yang profesorpun sudah banyak. Tetapi pandangan etnis Tionghoa terhadap agama Islam dan umat Islam, masih seperti dulu dan tidak berubah. Padahal itu sudah berlalu puluhan tahun.
Maka ada bukan hal yang aneh, jika ada anggota keluarga etnis Tionghoa yang masuk Islam maka mereka dikatakan telah ”memalukan keluarga”. Dulu makna ”memalukan keluarga” karena telah ”turun kelas” dari golongan kedua, timur asing menjadi golongan ke tiga Pribumi/inlaander yang mayoritas beragama Islam. Berbeda ketika anggota keluarga etnis Tionghoa masuk agama Kristen atau Kaholik, tidak bermasalah karena dari golongan kedua, timur asing mereka “naik kelas” menjadi golongan Barat/Eropa yang beragama Kristen/katholik yang identik dengan intelektual dan modern.
Di kalangan etnis Tionghoa, agama Islam identik dengan teroris dan kekerasan dan penyebaran agama Islam dilakukan dengan ”pedang” di tangan kanan dan kitab suci Al Quran di tangan kiri” . Padahal agama Islam disebarkan dengan kedamaian, dengan memperlihatkan dan contoh ahlak mulia sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan agama Islam rahmat bagi sekalian alam.
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama Islam, Al Quran S. Al Baqoroh : 256 dan “ Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku. Al Quran S. Al Kafirun : 6.
Dari kedua ayat tersebut di atas bahwa dalam agama Islam, tidak ada unsur pemaksaan bahkan toleransi dan menghormati agama lain adalah sangat dijunjung tinggi.
Yang paling menakutkan atau dikuatirkan oleh etnis Tiongha adalah ketika anggota keluarga (anak) mereka masuk Islam mereka tidak dapat lagi menjadi anak yang ”uhouw”, anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dalam arti mereka tidak dapat melakukan/mengikuti upacara-upacara seperti sembahyang arwah orang tua, sebagai kebaktian mereka kepada kedua orang tua mereka. Padahal dalam agama Islam, ibu sangat dijunjung tinggi. “Surga berada di telapak kaki ibu” (Hadits) Dan mewajibkan kita menghormati dan berbuat kepada orang tua, lihat Al Quran S. Al Ahqaf : 15 dan Surat Al Isra : 23 dan 24
Ketika kita sudah menjadi Muslim/ah dan orang tua kita sudah meninggal, kewajiban berbakti kepada orang tua harus sesuai dengan tuntunan agama Islam, kita tidak boleh melakukan sembahyang arwah tetapi berbakti kepada orang tua “keuhouwan” kita dalam bentuk mewujudkan cita-cita orang tua yang belum berhasil, kita jaga martabat dan kehormatan orang tua kita dengan menunjukan perbuatan kita yang baik dan menjaga hubungan kekerabatan, persahabatan dengan teman-teman orang tua kita dan lain sebagainya, kita teruskan,.
Kesimpulannya adalah selain perbuatan yang berkaitan dengan ibadah, perbuatan dan sikap kita kepada keluarga kita yang non muslim tidak ada yang berubah bahkan harus lebih meningkat dari ketika sebelum muslim/ah.***
(Dari: http://muslimtionghoa.com/ oleh Bpk. Haji Syarif Siangan Tanudjaya,SH)
Ternyata.....gara2 si Belanda similikithi -bahasa indonesianya apa ya??????- itu!
Bikin masyarakat Indonesia terpecah dulu secara etnis, baru Belanda dgn gampang ngambil Indonesia. Pakai acara iming2 kasta tinggi lagi......
So,jadi,....buat apa kita mesti membagi-bagi manusia jadi berbagai macam kelas/kasta/tingkatan?
Toh saat mati, sama2 cuma jadi santapan cacing atau abu, yang nggak bawa apa2 di dalam kubur, kasta juga gak dibawa
Dan bukan jaminan kan, dengan kasta lebih tinggi berarti kita udah dapat tempat di surga yang VIP?
Seandainya semua manusia menyadari, KITA SEMUA SAMA, hanya amalan di dunia yang akan membedakan kita......
Selasa, April 08, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar